The True Ideas

(Ideas…don't die!)

Archive for the tag “kisah tini”

Kala Hidayah Allah Memudar (Sebuah Kisah Nyata: Tini)

Hidayah Allah ta’ala, siapa yang tidak menginginkannya. Saya yakin, kalau saya dan anda tentu mendambakan diberikan Hidayah Allah dan terus istiqomah di jalanNya.

Namun, sebagaimana layaknya tanaman, Hidayah yang sudah didapat perlu untuk dirawat. Dipupuk, disiangi dari berbagai gulma yang mengganggu agar tanaman yang ada terus bertumbuh dengan sehatnya sehingga menghasilkan buah yang manis rasanya.

Hidayah terus bertumbuh apabila kita yang memilikinya, melakukan perawatan. Dengan memperbanyak amalan kebajikan, serta menjauhkan diri dari kemaksiatan kepadaNya. Namun, Hidayah bisa melayu apabila ia dibiarkan begitu saja.  Ia dibiarkan pelan-pelan mati karena berkubang kemaksiatan. Meninggalkan amalan-amalan taat dan terjerumus ke dalam jurang amalan-amalan bid’ah.

Dan berikut ini adalah sebuah cuplikan kisah nyata dengan bukan nama sebenarnya, yang kita bisa ambil hikmahnya secara mendalam. Bahwasanya, Hidayah itu mahal. Harus dirawat dan diperhatikan, supaya ia tidak memudar, apalagi mati!

Sila disimak kisahnya…

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Tini

Saat saya masih unyu – unyu (kira – kira kelas 2 atau 3 SMA), saya terkagum – kagum dengan seorang gadis. Sebut saja namanya Tini (bukan nama sebenarnya). Secara umur, si Tini ini adhek kelas saya cuman beda SMA. Hampir setiap berangkat atau pulang sekolah saya lewat di depan sekolahnya.

Bagaimana tidak kagum dengannya, saat itu di sekolah saya sekelasnya yang berjilbab sekelas paling dua atau tiga orang tiap kelasnya. Sedangkan si Tini ini ketika sekolah sudah memakai jilbab besar yang sampai lututnya. Bahkan kalau pulang sekolah (pas tidak sekolah) dia pakai cadar. Tak jarang ketika saya lewat di depan sekolahnya, si Tini sedang menyeberang jalan dan saya melampatkan motor. Ketika saya beli jajanan di samping warungnya saya sering melihat si Tini bantu Ortunya jualan dengan tetap memakai cadar hal yang sangat langka di daerah saya (perempuan bercadar) ketika awal tahun 2000-an. “Wah itu si Tini sedang bantu bapaknya” (batin hati saya saat itu). Maklum saat itu cuman bisa batin dan belum mampu kasih makan anaknya orang.

Bertambah kekagumanku ketika mendengar cerita temanku yang satu sekolahan dengan si Tini. Hampir setiap jam kosong sekolah di kelas si Tini, dia maju ke kelas untuk menasehati teman – temannya.

Waktu itu telah sangat lama terlampaui hingga bertahun – tahun, hampir sepuluh tahun. Hingga pada suatu malam saat saya bersama istri dan anak ke suatu pasar hiburan rakyat sekedar memberi hiburan pada anak dan istri di saat itu istri ngobrol dengan seorang perempuan yang tampak dengan pakaian seksi dan jilbab kecil semrawang. Sesampainya di rumah, wajah istri saya tampak lain, terpukul dan istri tanya ke saya.

Istri : “yang, tau tidak perempuan tadi siapa.?”

Ana : “Tidak, siapa dia.?”

Istri : ” dia si Tini, kok bisa sekarang jadi seperti itu.?”

Ana : ” innalillahi wa inna ilaihi roji’un“.

Sejak saat itu, apalagi bila teringat kisah si Tini saya selalu melazimkan suatu doa.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

https://www.facebook.com/abuukasyah.khoirulhidayat

Selesai kutipan.

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana reaksi anda saat membaca kisah si Tini ini? Tragis? Menyedihkan?

Saya sendiri juga menyaksikan bagaimana perubahan terjadi kepada mereka yang saya kenal, berubah secara ekstrim. Jika mbak Tini dalam kisah di atas, berkurang ukuran jilbabnya –menjadi jilbab gaul-, saya menyaksikan bagaimana seseorang yang dahulunya berjilbab lebar, yang kemudian MELEPAS jilbabnya itu.

Dan bukan itu saja, (bahkan) ia mengganti agamanya. Dari Islam, menjadi agnostic. Agama kasih. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Maka saya nasehatkan diri pribadi ini untuk senantiasa mawas diri. Bahwa Hidayah Allah yang sudah menyapa kita, bisa lepas terbang entah kemana apabila kita tidak terus-terusan meminta keistiqomahan untuk tetap di jalanNya.

Akhirul kalam, semoga Allah pelihara diri-diri kita ini untuk istiqomah di dalam hidayahNya, terlebih di dalam Hidayah taufiqNya. Menjalani syariat agama di dunia ini dengan ajaran Nabi Muhammad sebagaimana beliau shollaallahu alaihi wasallam ajarkan kepada para Sahabatnya yang mulia radiyallahu anhum ajma’in.

Wallaahu ta’ala a’lam.

Post Navigation