The True Ideas

(Ideas…don't die!)

Archive for the category “Keluarga”

It’s All About Bussiness (Acara Televisi Itu…)

Bisnis, Bisnis, Bisnis! (Ya, hanya orientasi bisnis semata-mata)

PINGGGG…Sebuah suara mengagetkan saya. Berasal dari smartphone yang kehadirannya seolah-olah tak bisa dihindari lagi –malah curcol-.

Saya lihat. Sebuah pesan suara. Segera saya klik untuk mendengarkannya. Suara seorang perempuan. Sedang menjelaskan sesuatu yang saya ingin bagikan lewat tulisan ini.

Ia (si perempuan itu) menjelaskan tentang satu hal: acara di televisi. Bagaimana ia bertemu dengan EO –Event Organizer- seorang artis yang acara mantenannya diliput oleh sebuah televisi swasta. Bahkan acara ngunduh mantennya juga.

Mubazir frekuensi untuk public. Begitu saya pernah mendengar sebuah petisi yang dilayangkan kepada televisi itu gegara menayangkan acara ini.

Konon, si perempuan yang ada dalam suara itu mendapatkan informasi dari si EO. Si artis sebenarnya tak bermaksud mengadakan acara mantenannya dengan konsep yang WAH. Toh dari sisi dana akan menghabiskan banyak bujet. Namun, ini semua karena si artis mengIYAkan skenario dari televisi swasta itu untuk menaikkan pamor mereka setelah melihat kenyataan di lapangan televisi mereka, KALAH dengan munculnya televisi swasta baru yang seumur jagung munculnya.

Si perempuan itu menjelaskan lebih lanjut bahwa acara itu memang TAK ADA unsur mendidiknya. Hanya sekedar untuk menaikkan rating. Dengan naiknya rating, maka berarti banyak pemasang iklan yang masuk. Dan itu artinya pundi-pundi uang akan bertambah dan juga share mereka bisa naik.

Intinya: murni bisnis semata!

Bad News is Good News.

Rasanya anda tidak asing dengan kalimat di atas ini. Bad news adalah good news untuk media yang ada. Artinya, dengan makin hingar bingarnya sebuah bad news, orang-orang (baca: masyarakat) yang suka kepo dengan hal ini akan mencari berita yang diwartakan.

Artinya apa?

Makin banyak orang yang meng-klik berita tersebut. Dan kemudian diharapkan, iklan mengalir dari isi berita yang menimbulkan kontroversi tersebut.

Jadi, sama halnya dengan yang ditulis sebagai pendahuluan, bahwa bisnis-lah yang dikedepankan. Etika? Sama halnya dengan isapan jempol semata. Keberadaannya nyaris tak terdengar lagi.

Lalu bagaimana menyikapi lingkungan yang sakit ini?

Hmm, saya katakan: remote control itu ada di tangan anda! Ini penting untuk disadari. Karena orientasi penyaji informasi hanya untuk mendapatkan uang semata, maka jangan harap mereka akan menjadi badan social yang ikut berpartisipasi dalam membangun mentalitas masyarakat dengan sehat.

Tidak! Singkirkan opsi itu (meski kita mendengar bagaimana program CSR –Corporate Social Responsibility– digalakkan). Ya karena dalam iklim kapitalisme, semua orientasinya kepada perolehan profit saja. Tidak kurang, tidak lebih.

Dan sebagai elemen masyarakat paling kecil, anda bisa melawan dengan apa? Yang ada, kita tergilas sendiri. Okelah ada yang mencoba melawannya dengan membuat petisi. Mengingatkan para petinggi negeri yang punya kuasa untuk menghentikan infiltrasi berlebih dari para pebisnis itu.

Namun, seberapa efektif cara itu? bersiap-siaplah untuk masgul menerima kenyataan bahwa hal tersebut tidaklah (terlalu) efektif untuk dilakukan.

Yang bisa dilakukan? Ya, seperti sudah disinggung di atas. Andalah pemegang remote control itu. Pindahkan channel anda itu. Atau kalau tidak, MATIKAN saja. Konon, mereka yang hidup tanpa televisi, hidupnya lebih bervariasi. Lebih kreatif. Karena waktunya tidak habis didoktrin oleh tayangan dan iklan yang menyebabkan kehidupan makin konsumtif!

Setidaknya, jika memang (masih) tak bisa lepas 100% dari kotak berwarna dalam kehidupan rumah tangga anda, kurangi saja. Seleksi tayangan apa yang anda lihat. Dan jangan lupa, bahwa acara-acara di televisi itu dibuat, semata-mata untuk mendapatkan rating tinggi untuk menyedot iklan.

Tak peduli apakah anda unsur edukasinya, atau seolah-olah hanya memanjakan mata anda, meski sebenarnya berisikan sampah sahaja.

Bagaimana, anda setuju dengan saya?

Post Navigation